Bertemunya Dua Sekawan (Part 1)

            Semester pertama di SMA, itu artinya saya baru lulus SMP dan petualanganku untuk mencari jati diri dimulai. Pada awalnya saya masih kecewa karena tidak masuk di sekolah favorit pada saat itu, dan terpaksa masuk di SMA yang katanya sebagian siswanya nakal-nakal dan berprofesi sebagai preman. Dan saya juga kecewa, kenapa dari sekian ratus siswa saya adalah siswa yang lolos di peringkat terakhir : ternyata di SMA itu pun taraf saya masih di bawah rata-rata, dengan bujukan dari ortu akan dinaikkan uang jajan akhirnya saya bisa menerima untuk ikhlas sekolah di SMA buangan itu. Jika kalian ingin tahu sekolahku dulu itu masuk gang yang di gapuranya (baca- pintu masuk gang) bertuliskan ‘Perumahan Banjararum’, jangan berpikiran saya sekolah di tempat seperti layaknya sebuah suami istri yang hidup di suatu rumah di dalam perumahan dan kita diajarkan bagaimana berumah tangga yang baik dan benar, meskipun awalnya saya berpikiran seperti itu. Setelah itu masuk sekitar kurang lebih 10 KM ke dalam melewati perumahan Banjararum dan perkebunan tebu serta pohon-pohon jati.
            Jika dibayangkan sekolahku itu layaknya seperti tempat sekolahnya Harry Potter kalo di filmnya ada hutan terlarang di sekolahku juga ada (hutan jati terlarang), lanjut ada danau di sekitar Hogwarts kami juga ada (genangan air bila turun hujan dikit dan dalamnya setinggi paha orang kalo lagi berdiri). Pada intinya sekolahku itu jauh dari peradaban manusia, saking jauhnya warga setempat tidak tau kalo ada sekolah di situ.
            Akhirnya hari pertama masuk sekolah dan kelasku berada di ujung gedung yaitu kelas 10-(6), tempat dimana biasanya para preman-preman sekolah nongkrong di tempat tersebut. Yah hari pertama proses belajar mengajar berjalan dengan normal, seperti belajar bagaimana berumah tangga yang baik dan benar..eh! maksud saya.. Ahhssudahlah. Proses perkenalan diri oleh wali kelas dan murid dimana kita ditanyai cita-citanya apa? Di sini saya berpikir, saya sekolah SMA atau SD ya kok ditanyai cita-cita gitu. Karna kudu dijawab maka aku bilang aja ‘Pengen jadi polisi mbak’ (karna pada saat itu guruku amat muda sekali kayak masih mbak-mbak).
            Sesaat kemudian saat temenku yang duduk paling belakang ditanyai apa cita-citanya, dia menjawab ‘Pengen jadi orang bu!’ kata dia mantap, ‘Hahahahaha’ guruku tertawa lepas saat mendengar Mahardika (sebut saja dika) menyatakan cita-citanya, ‘Jadi selama ini kamu belum jadi orang Dik??’ tanya guruku ‘Ma..maksudnya pengen jadi orang yang sukses gitu lo bu’ jawab Dika dengan malu karena berpikir selama ini dia belum sempurna menjadi manusia. Entah kenapa dalam hati kecilku Dika adalah orang baik tapi sembrono, tapi kenyataannya adalah dia adalah anak yang “urakan” dalam bahasa Jawa modern itu adalah sifat tercela yang bila dicontoh adalah tidak baik, tapi seiring berjalannya waktu kami berdua di takdirkan menjadi teman berubah menjadi sahabat dan akhirnya berevolusi menjadi Kupu-kupu (Nah lo?).

            Sepintas kadang terlihat ngeri bahwa saya berteman dengan Dika, yaa bisa dibilang preman spesialis cewek lah, dan kadang ada untungnya juga saya berteman dengan preman yaa itung-itung aman lah dari kejaran banci-banci di sekolah : saya dulu spesialis dikejar banci-banci di sekolah. Pernah kejadian, saya lagi nganter temen cewek saya pulang dan tiba-tiba ada seorang cowok dengan motor pretelan menghampiri saya sambil jalan, ternyata itu adalah pacar dari si cewek yang aku bonceng, parahnya lagi dia adalah preman pasar yang sering malakin anak-anak kecil di pasar. Dia kelihatan marah karena aku bonceng dan saya hanya bisa bengong dan melongo pada saat kejadian : muka cari aman dari masalah fisik bila terjadi. Keesokan harinya saya bercerita ke Dika dan dia bilang ‘Santai aja dar ntar aku panggilin teman-teman kompleks ku untuk bantu kau’ kata Dika sambil ngisep lollipop, ‘Tapi Dik ini preman pasar Dik’ aku panik, ‘aaaah sudahlah, pokoknya kau tenang saja, kalo ada apa-apa hubungi saja saya’, disitu saya berpikir sejenak, bahwa Dika ini teman kompleksnya sungguh bisa diandalkan, sedangkan kalo di ingat-ingat kembali teman-teman kompleksku yang kalo bisa dibilang kumpulan anak cupu-cupu semua : sesama anak cupu pasti temennya cupu juga semua. 
Next
This is the current newest page
Previous
Next Post »

4 komentar

Click here for komentar
Unknown
admin
6 Mei 2015 pukul 15.51 ×

Kapan mau dilanjutkan kak?

Reply
avatar
Unknown
admin
3 Juli 2015 pukul 18.21 ×

Iya om kapan mau dilanjut om? :3

Reply
avatar
Unknown
admin
3 Juli 2015 pukul 18.21 × Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
avatar
Unknown
admin
3 Juli 2015 pukul 18.22 × Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
avatar
Thanks for your comment